Alas Purwo - Malam itu pertengahan Agustus 2022, angin kencang berembus dingin menembus rimbunnya belantara Alas Purwo, Banyuwangi. Dua penjelajah muda, Dimas dan Reno, memutuskan untuk merekam dokumentasi vegetasi hingga mendekati kawasan Situs Kawitan menjelang senja. Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam hutan, juru kunci lokal di pos Pancur sebenarnya telah memberikan peringatan tegas: "Yen wis krungu swara gamelan, aja pisan-pisan ditoleh, lan aja nganti jupuk barang apapun saka lemah."
Gerimis tipis mulai mengguyur saat jarum jam menunjukkan pukul 17.45 WIB. Kegelapan jatuh jauh lebih cepat daripada biasanya di bawah naungan kanopi pohon-pohon raksasa berumur ratusan tahun. Langkah Reno mendadak terhenti ketika matanya menangkap kilatan aneh di balik semak-semak perawan. Tanpa menanti Dimas, Reno mendekati sumber cahaya itu dan menemukan sebuah batu hitam mengilap berbentuk cincin tua yang tergeletak di atas bongkahan batu berlumut. Tergiur oleh keunikannya, Reno mengantongi batu tersebut meski Dimas sudah mengingatkan bahayanya.
Begitu batu itu berpindah ke dalam saku, suasana hutan berubah drastis secara tidak wajar. Suara jangkrik dan nocturnal binatang malam yang tadinya riuh mendadak bungkam total—menciptakan kesunyian ganjil yang mencekam. Hanya dalam hitungan menit, dari kedalaman belantara yang tak terambah manusia, terdengar alunan sayup-sayup suara gending gamelan Jawa mengalun lambat dan menyayat hati, seolah sedang berlangsung prosesi kerajaan di tengah hutan mati.
Rasa panik mulai menguasai mereka. Dimas berusaha memimpin jalan berbalik arah menuju jalur utama Pancur, namun jalur jalan setapak yang sebelumnya mereka lewati kini lenyap, berganti deretan pohon beringin raksasa yang meliuk-liuk seragam. Mereka berjalan berputar-putar di tempat yang sama selama lebih dari tiga jam. Setiap kali mereka mencoba melangkah lebih cepat, gema suara gamelan itu bukannya menjauh, justru terdengar semakin dekat dan menggelegar tepat di atas kepala mereka.
Puncak teror terjadi saat jarum jam menyentuh pukul 23.30 malam. Tubuh Reno mendadak terasa amat berat hingga ia ambruk di tanah basah. Suhu tubuhnya melonjak panas, dadanya sesak, dan matanya melotot menatap lurus ke atas dahan pohon beringin tua di depan mereka. Di atas dahan tersebut, duduk sosok tinggi besar berbulu hitam lebat dengan mata merah menyala yang menatap mereka tanpa berkedip, disusul barisan bayangan berkain jarik yang berjalan beriringan melayang tanpa menyentuh tanah.
Sadar bahwa keselamatan jiwa mereka terancam akibat kecerobohan Reno, Dimas merogoh saku jaket Reno dan merebut batu hitam tersebut. Dengan tangan gemetaran dan napas tersengal, Dimas melempar batu itu kembali ke tempat asalnya sambil bersujud dan merapalkan doa-doa keselamatan, memohon ampun atas kelalaian mereka yang telah melanggar pantangan.
Seketika batu itu menyentuh tanah, angin kencang mendadak bertiup menghempaskan dedaunan. Suara gamelan gaib itu lenyap seketika, berganti dengan suara dentuman gemuruh ombak pantai G-Land (Plengkung) dari arah selatan. Menggunakan gema suara ombak sebagai petunjuk arah, Dimas merangkul Reno dan berlari tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun hingga akhirnya mereka berhasil keluar menuju pos penjagaan pada pukul 03.15 dini hari.
Para petugas pos dan warga lokal yang menemukan mereka dalam kondisi lemas dan trauma berat hanya bisa mengelus dada. Di Alas Purwo—hutan paling tua di ujung timur Pulau Jawa—pantangan bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan batas tegas antara dunia nyata dan kegelapan alam tak kasat mata yang tak ragu menyesatkan siapa saja yang menantangnya.

Komentar
Posting Komentar