Alnet Horor
Kisah Nyata • Misteri • Horor Nusantara
Di Balik Gelap, Ada Kisah yang Nyata

Selamat Datang di ALNET HOROR

Jelajahi kisah horor, pengalaman mistis, misteri, legenda, dan tempat-tempat penuh cerita dari berbagai penjuru Nusantara. Setiap tulisan menghadirkan pengalaman dan sudut pandang yang mengajak kita mengenal sisi lain dari cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Temukan kisah pilihan, ikuti jejak misteri, dan bagikan pengalaman Anda. Bacalah dengan bijak, tetap kritis, serta hormati setiap kisah dan budaya yang menjadi bagian dari kekayaan Nusantara.

Wajah Terbalik di Atas Pintu: Kisah Nyata Malam Jumat Kliwon

Kota Lama - Malam Jumat Kliwon akhir Oktober 2021, Rian terpaksa bertahan di lantai tiga gedung kantor tua yang sedang direnovasi di kawasan kota lama. Waktu menunjukkan pukul 01.40 dini hari ketika perutnya mendadak melilit hebat. Karena kamar mandi utama di lantai tempatnya bekerja sedang dikunci untuk perbaikan, Rian terpaksa turun ke lantai dua - area lorong belakang yang terkenal remang-remang dan jarang dilewati pegawai.

​Suasana lorong terasa sangat dingin dan senyap. Hanya ada gaung suara tetesan air dari pipa bocor yang bergema di sepanjang lorong keramik kusam. Rian mendorong pintu kayu kamar mandi yang berdecit nyaring. Aroma kaporit menyengat bercampur bau apak dan wangi melati yang samar-samar langsung menyambut hidungnya. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip tak stabil, memancarkan cahaya redup yang memantulkan bayangan samar di atas cermin tua berdinding kusam.

​Rian melangkah menuju bilik paling ujung—satu-satunya bilik yang pintunya sedikit terbuka dan kran airnya masih berfungsi. Saat ia masuk dan mengunci pintu engsel seng dari dalam, kesunyian malam mendadak terasa begitu berat.

​Malam semakin larut ketika Rian mendengar suara langkah kaki basah melangkah pelan masuk dari pintu depan kamar mandi. Srekk... srekk... srekk... Suara itu menyerupai telapak kaki telanjang tanpa alas yang menapak di atas lantai keramik basah, mendekati deretan bilik satu per satu.

​Rian menahan napas. Ia mengira itu adalah rekan kerjanya yang juga ingin menggunakan kamar mandi. Namun, langkah kaki itu terhenti tepat di depan pintu biliknya.

​Tidak ada ketukan, tidak ada suara pintu dibuka. Selama hampir dua menit, yang terdengar hanyalah suara helapan napas berat dan basah yang berhembus tepat di balik celah pintu kayu tempat Rian duduk terdiam. Bulu kuduk di leher Rian berdiri tegak; suhu di dalam bilik kecil itu merosot drastis hingga napasnya mengembun tipis.

​Secara refleks, mata Rian melirik ke celah celah bawah pintu untuk melihat kaki orang di luar. Betapa gemetarnya Rian ketika ia melihat dua telapak kaki pucat kebiruan yang menghadap ke arah berlawanan - seolah-olah tubuh di luar sana berdiri membelakangi pintu, namun bagian tumitnya justru berada di depan. Yang lebih mengerikan, kedua kaki itu mengambang sekitar lima sentimeter di atas permukaan keramik yang basah.

​Sebelum Rian sempat berteriak, dari celah atas pintu bilik, sebuah kepala perempuan berambut panjang basah terurai turun secara perlahan dengan posisi terbalik. Wajahnya yang hancur dan pucat pasi kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari muka Rian, dengan mata hitam pekat melotot tajam dan mulut menyeringai lebar memperlihatkan lidahnya yang terjulur.

​Panik luar biasa menguasai Rian. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang tersisa, ia menghantamkan tubuhnya ke pintu bilik hingga engsel sengnya terlepas dan roboh. Rian berlari kencang tanpa berani menoleh ke belakang, menembus lorong gelap menuju pos penjagaan di lantai dasar.

​Saat tiba di pos dengan wajah pucat bagaikan mayat dan napas tersengal-sengal, dua petugas keamanan yang berjaga langsung merangkulnya. Tanpa perlu Rian menjelaskan secara detail, salah satu satpam senior menggelengkan kepala seraya berbisik pelan, "Mas Rian masuk kamar mandi ujung lantai dua, ya? Bilik itu memang sudah lama ditutup sejak peristiwa seorang pegawai wanita yang ditemukan tewas mengenaskan di dalam sana sepuluh tahun lalu..."

​Pengalaman singkat malam itu menjadi teror paling mencekam yang tak pernah bisa dilupakan Rian, membuktikan bahwa di sudut-sudut tersepi tempat yang kita anggap biasa, ada batas tipis yang sewaktu-waktu bisa terbuka menuju kegelapan tak kasat mata.

Komentar

Di Balik Gelap, Ada Kisah yang Nyata.